• KUNJUNGAN PASTORAL USKUP

    Mgr. Aloysius Murwito OFM duduk dalam perahu dan dipikul umat saat penyambutan- pemberkatan Gereja Stasi Ambisu Paroki Atsj

  • PENYALIBAN YESUS

    Drama penyaliban Yesus oleh OMK di Agats

  • Pantai Pirimapun Asmat Foto John Ohoiwirin

    Pantai Pusat Paroki Hati Kudus Pirimapun

In Deo Speravi Non Timebo

~ Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. ~

Suara Uskup - Jurnal FU

PERSAUDARAAN DI TENGAH KEBERAGAMAN

 Kemajemukan dalam hidup bermasyarakat semakin terasa di tanah Papua.  Bukan saja di kota-kota besar seperti Jayapura, Sorong, Timika, tetapi juga semakin dirasakan di daerah yang lebih ke pedalaman seperti di tanah Asmat. Agats yang dulunya hanya segelintir orang pendatang  sekarang semakin banyak dan cukup bervariasi. Dari segi asal-usulnya: mereka datang dari  Sulawesi selatan, Sulawesi utara, Maluku, Nusa Tenggara, Jawa, Sumatra, dll. Dari sudut suku: ada orang Bugis, Toraja, Tanimbar, Kei, Batak, Jawa, Manggarai, Ngada, dan puluhan suku yang dari Papua yang bukan suku Asmat. Dari segi keyakinan: kalau dulu hanya katolik dan satu gereja Kristen sekarang paling tidak ada 10 denominasi Kristen dan banyak pemeluk islam, dll. Begitu terus masih bisa ditelusuri kemajemukan dalam masyarakat di mana kita tinggal sekarang. 

Read more...

Lintas Komisi Paroki - Jurnal FU

MERAWAT JATI DIRI

Dalam Musyawarah pastoral ke-4 pada 2012, umat Keuskupan Agats merekomendasikan beberapa program yang menjadi prioritas Komisi Kebudayaan. Dalam analisa bersama ditemukan bahwa tantangan utama Suku Asmat saat ini adalah modernisasi. Berbagai perubahan sosial dialami oleh Suku Asmat dan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan di kampung. Tatanan sosial seperti kekerabatan, aturan adat dan aneka kearifan lokal semakin tidak dihiraukan malahan digantikan dengan gaya hidup modern.

Read more...

Teropong Asmat - Jurnal FU

‘SAI’ SEBAGAI BENTUK PERSUDARAAN

Ketika kita berbicara tentang persudaraan dalam lingkup budaya Asmat salah satu hal yang bagi saya menajadi dasar ikatan ialah membagi (sai dalam dialek Safan). Saya melihat membagi sebagai  ikatan persudaraan  karena saya melihat dan mendengar  beberapa hal yang terjadi dalam masyarakat Asmat yang berkaitan dengan membagi. Salah satu contoh ketika kita berada dalam pesta-pesta adat di Yai (rumah adat- dialek Safan) dimana orang mengumpulkan makanan, barang atau apa saja di  Wair (tungku utama/pusat dalam rumah adat) maka ada orang-orang tertentu yang

Read more...